MEMBANGUN KARAKTER SISWA SMA NEGERI 1 KUTOREJO KABUPATEN MOJOKERTO MELALUI KESANTUNAN BAHASA (UNGGAH-UNGGUH BASA)
Oleh : JAZILATUL RAKHMAH,S.Pd
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR
SMA NEGERI 1 KUTOREJO
Jalan Lapangan No. 2, Kec.Kutorejo
MOJOKERTO
2023
LEMBAR PENGESAHAN
Pengembangan dalam bentuk Artikel Ilmiah berjudul “MEMBANGUN KARAKTER SISWA SMA NEGERI 1 KUTOREJO KABUPATEN MOJOKERTO MELALUI KESANTUNAN BAHASA (UNGGAH-UNGGUH BASA)
Disusun oleh:
Nama : JAZILATUL RAKHMAH, S.Pd
Asal Sekolah : SMA NEGERI 1 KUTOREJO
Telah disetujui dan disahkan oleh:
Bertempat di : Mojokerto
Tanggal : 27 November 2023
Mojokerto, 27 November 2023
KEPALA SMA NEGERI 1 KUTOREJO
KABUPATEN MOJOKERTO
Drs. Ahmad Setyawan, M.M.Pd
Pembina Tk.I
NIP. 19660101 198901 1008
ARTIKEL
MEMBANGUN KARAKTER SISWA SMA NEGERI 1 KUTOREJO KABUPATEN MOJOKERTO MELALUI KESANTUNAN BAHASA (UNGGAH-UNGGUH BASA)
OLEH:
JAZILATUL RAKHMAH,S.Pd
SMA N 1 Kutorejo
ABSTRAK
Kesantunan berbahasa merupakan tata karma dalam menggunakan Bahasa Indonesia. Hal itu juga berpengaruh dalam menggunakan Bahasa Jawa. Penelitian ini mempunyai upaya untuk mengetahui permasalahan mengenai kesantunan bahasa peserta didik kepada pendidik dan teman sekolahnya khususnya yang terjadi pada siswa SMA Negeri 1 Kutorejo. Penulis juga menggunakan metode yang kualitatif untuk mengumpulkan data yang akan diteliti. Hal tersebut dalam penelitian ini penulis membahas mengenai cara membangun karakter peserta didik dalam berbahasa. Adanya kesantunan berbahasa yang baik terjadi pada lingkungan sekolah dan lingkungan keluarga. Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang mana bersifat analisis dan deskriptif untuk menganalisis bagaimana tuturan para siswa dalam berkomunikasi. Dari hasil analisis, yang didapatkan ada dua hal yang pengaruhnya besar terhadap kesantunan berbahasa unggah-ungguh siswa yaitu factor lingkungan keluarga dan factor lingkungan sekolah. Oleh karena itu, kedua factor tersebut mempunyai pengaruh besar terhadap karakter para siswa khususnya di SMA Negeri 1 Kutorejo
Kata kunci: kesantunan berbahasa, unggah-ungguh, keluarga, sekolah
PENDAHULUAN
Manusia merupakan makhluk sosial yang senantiasa membutuhkan seseorang untuk melakukan sebuah interaksi dalam sebuah komunikasi. Saat melalukan sebuah komunikasi, manusia harus memiliki sebuah Bahasa yang dapat dipahami oleh lawan bicaranya. Pemilihan Bahasa yang tepat kini sudah menjadi sebuah peraturan untuk melakukan suatu percakapan. Hal itu diperlukan untuk mengatasi kesalahpahaman antara penutur dengan mitra tutur yang sedang melakukan interaksi. Agar sebuah intraksi tersebut berhasil kedua pihak harus memiliki pengetahuan latar belakang yang sama. Tidak hanya itu yang diperlukan saat melakukan interaksi, dengan mengetahui cara komunikasi bias menjadikan keeberhasilan suatu percakapan tersebut. Dapat kita lihat saat melakukan sebuah komunikasi memerlukan kesantunan berbahasa, agar komunikasi tersebut tidak menyinggung atau membuat sakit hati orang lain.
Kesantunan berbahasa merupakan tata karma dalam menggunakan Bahasa Indonesia. Hal itu juga berpengaruh dalam menggunakan Bahasa Jawa. Diera kemajuan teknologi masyarakan telah sering melupakan unggah ungguh yang sudah ditetapkan dalam berbahasa. Menurut Chaer (dalam Dari 2017: 13) menyatakan bahwa skala kesantunan dapat diukur dari tingkatan yang tidak santun sampai tingkatan yang paling santun. tingkatan kesantunan itu menyangkut apakah suatu tuturan lebih santun, santun, atau kurang santun Rustono (dalam Faridah 2018: 40). Salah satu yang harus diperhatikan saat menggunakan teknologi terutama saat memberi informasi harus memilih kata yang mudah dipahami dan tidak menyinggung khalayak. Hal itu juga harus diterapkan pada siswa saat berkomunikasi bersama pendidik harus menggunakan tata karma yang baik.
Bahasa daerah yang memiliki etika dan milai budaya yaitu Bahasa Jawa. Pembelajaran Bahasa Jawa mengajarkan unggah-ungguh untuk meningkatkan etika saat berbicara dengan orang yang lebih tua atau orang yang memiliki jabatan tinggi. Oleh karena itu, kebanyakan masyarakan yang menggunakan Bahasa Jawa saat melakukan komunikasi dan berintekasi didalam masyarakant. Hal itu dapat dilakukan karena kita hidup dikwasan orang jawa.
Sebagai seorang pendidik kita tidak hanya mengajarkan materi pembelajaran, akan tetapi unggah-ungguh harus juga harus diajarkan secara praktik. Seorang melihat peserta didik yang kurang memahami cara tata karma saat berkomunikasi harus bisa menegurnya secara langsung. Dengan hal itu, peserta didik bisa mengetahui bagaimana cara berunggah-ungguh saat berkomunikasi dengan yang lebih tua. Tidak hanya dalam berkomunikasi secara nyata, tetapi saat seseorang memanfaatkan teknologi seperti whatsapp atau pun yang berbentuk tulisan. Akan tetapi lebih baik jika atur-atur dilakukan dengan cara lisan, yakni dengan mendatangi orang yang akan diajak untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang dilakukan. Dalam Kurikulum sekarang ini, proses belajar dengan membiasakan keterampilan unggah ungguh haruslah disampaikan. Untuk itu pendidik harus mampu mengajarkan dan membisakan perserta didik cara bertata krama dengan benar.
Dalam proses pembelajaran tidak selalu berjalan mulus, kadangkala masih ada beberapa kesulitan maupun kendala dalam pelaksanaan pembelajaran. Kendala atau kesulitan tersebut bisa disebabkan karena rendahnya motivasi siswa dalam pembelajaran Bahasa jawa unggah-ungguh. Adanya anggapan bahwa Bahasa Jawa unggah-ungguh itu sulit dan hanya digunakan disebagian daerah. Sehingga anggapan-anggapan tersebut berpengaruh terhadap kurangmya antusias dan keaktifan peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. untuk menangani permasalahan-permaslahan tersebut, peran dan tanggung jawab seorang guru sangat dibutuhkan, Disini guru bisa membuat konsep pembelajaran yang semenarik mungkin selaras dengan pembelajaran abad 21 agar nanti diharapkan bisa mengembangkan peserta didik lebih aktif, kreati, bernalar kritis dan mampu bekerja sama dengan baik, khususnya dalam menerapkan unggah-ungguh basa ini sebagai pondasi untuk membangun karakter peserta didik.
Dari penjelasan diatas, peneliti berupaya ingin mengetahui permasalahan-permasalahan yang terjadi pada peserta didik khususnya mengenai kesantunan berbahasa unggah-ungguh pada siswa SMA Negeri 1 Kutorejo Kabupaten Mojokerto. Dari permasalahan tersebut, peneliti terdorong untuk meneliti bagaimana penggunaan unggah-ungguh atau tutur kata dalam membangun karakter peserta didik. Pendidik disini menjadi ujung tombak untuk memperbaiki tutur kata yang kurang sopan.
METODE PENELITIAN
Dalam sebuah penelitian, dibutuhkan metode untuk membantu terlaksananya penelitian tersebut. Pada dasarnya dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Yang mana sifatnya analisis dan deskriptif sehingga proses dan kebemaknaannya akan lebih terlihat. Karena pada dasarnya untuk penelitian dengan metode kualitatif ini tidak membbutuhkan pola hitung-hitunga. Menurut Sugiyono,2013 bahwa penelitian ini termasuk dalam kategori etnografi karena membahas tentang kebudayaan yaitu mengenai kebudayaan suku Jawa. Pengumpulan data kualitatif ini melalui metode observasi dan wawancara yang menjadi data primer. Sedangkan data sekunder bisa diambil dari buku, jurnal maupun sumber lain yang relevan terhadap penelitian ini.
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Kutorejo Kabupaten Mojokerto. Adapun penelitian ini meliputi guru dan siswa kelas X, XI, dan XII, sedangkan untuk sampel atau responden penelitian diambil secara acak, yaitu beberapa siswa saja. Objek penelitian ini yaitu mengenai kesantunan bahasa (unggah-ungguh basa) siswa kepada guru dan teman sekolahnya. Penelitian ini juga membutuhkan instrument sebagai pendukung.Instrumen Penelitian ini dilakukan menggunaakan HP yang mana HP tersebut untuk merekam percakapan siswa terhadap gurunya, serta membutuhkan buku catatan untuk mencatat situasi yang terjadi.
Untuk mengetahui penyebab rendahnya karakter kesopanan siswa di SMA Negeri 1 Kutorejo Kabupaten Mojokerto digunakan lembar observasi. Pengumpulan Data yang dilakukan dalam penelitian ini didapat langsung dari observasi lapangan yang saya lakukan sendiri dengan mewawancarai serta memperhatikan penggunaan bahasa pada saat para siswa sedang berinteraksi, baik dengan teman sebaya, maupun orang yang lebih tua ataupun para guru. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan dokumentasi yang dilakukan dengan merekam serta memotret sasaran yang sedang berinteraksi serta melakukan observasi sebagai pengamatan lapangan. Dalam proses pengumpulan data ini, peneliti mengumpulkan data berupa gambar-gambar pada saat sasaran sedang berinteraksi. Dari hasil wawancara yang dilakukan, dapat dikatakan bahwa para siswa SMA Negeri 1 Kutorejo rata-rata kurang bisa berbahasa Jawa khususnya menerapkan unggah-ungguh basa.
HASIL
Hasil dari analisis data penelitian ‘’Membangun Karakter Siswa SMA Negeri 1 Kutorejo Kabupaten Mojokerto Melalui Kesantunan Bahasa (Unggah-Ungguh Basa)’’ berupa deskripsi kondisi kesantunan bahasa siswa terhadap guru maupun orang yang lebih tua. Berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian, dapat ditemukan beberapa hal yang mempengaruhi siswa enggan menerapkan unggah-ungguh basa.
Lingkungan Keluarga
Tak banyak dari mereka yang bisa berbahasa Jawa saat berinteraksi. Ada juga yang hanya bisa memahami maksud dari tuturan bahasa Jawa tersebut, namun kurang mampu untuk melafalkannya. Berdasarkan hasil observasi, dapat dipaparkan secara umum bahwa tak banyak dari mereka yang mahir dalam berbahasa Jawa khususnya dalam menerapkan unggah-ungguh basa. Disini, dari factor keluarga sangat berpengaruh terhadap penggunaan Bahasa Jawa (unggah-ungguh basa) yang mana nantinya berimbas pada tingkat kesantunan berbahasa siswa. Latar belakang siswa tinggal dilingkup masyarakat Jawa sehingga masih banyak keluarga mereka yang masih menggunakan Bahasa Jawa saat berinteraksi maupun berkomunikasi dengan yang lainnya akan tetapi pada kenyataanya, sesuai dengan pengamatan bahwa mayoritas yang menggukan bahasa Jawa adalah orang-orang yang sudah tua, bukan para siswa atau kaum muda maupun anak-anak yang notabennya sebaga pelestari bahasa maupun budaya. Selain itu, mereka mengatakan bahwa mereka lebih tertarik untuk mempelajarai bahasa asing dari pada bahasa Jawa (unggah-ungguh basa) yang dianggap sulit. Alasan lain mereka beranggapan bahwa kalua mempelajari budaya maupun Bahasa asing itu lebih mudah dan berguna bagi kehidupannya ke depan. Didukung dengan anggapan bahwa jika mereka mampu menguasai bahasa asing, maka mereka akan lebih mudah berinteraksi dengan orang asing jika mereka mendapat pekerjaan atau menempuh pendidikan di luar negeri. Sehingga dari anggapan tersebut dapat menimbulkan pola piker yang enggan untuk melestarikan Bahasa khususnya mengenai unggah-ungguh basa
Melalui lembar observasi yang telah dibagikan kepada siswa yang dijadikan sampel penelitian, ditemukan bahwa tidak banyak siswa yang mahir dalam menerapkan unggah-ungguh basa. Hal ini disebabkan karena mereka selalu menggunkan bahasa Indonesia saat berinteraksi, dan hampir tidak pernah menggunakan bahasa Jawa saat berbicara. Namun, masih ada juga yang bisa berbahasa Jawa walaupun hanya sedikit-sedikit menggunakan kosa katanya. Bahkan ada juga yang hanya mengerti arti dari bahasa Jawa yang diucapkan orang lain, namun sulit untuk melafalkannnya sendiri.
Jika dilihat dari segi keluarga, mmasih banyak anggota keluarga yang masing menggunakan Bahasa jawa yakni ngoko. Jika menggunakan tuturan sesuai unggah-ungguh basa yaitu karma inggil, hanya saat-saat tertentu dalam berkomunikasi., baik itu dari nenek, ibu, ayah atau anggota yang lainnya. Akan tetapi, jika dilihat juga masih banyak generasi muda maupun anak-anak hamper sama sekali tidak pernah menggunakan Bahasa Jawa saat berkomunikasi maupun berinteraksi didalam keluarga dan menggunakan Bahasa Indonesia.
Jika dari piha orang tua atau pihak keluarga yang di rumah tidak membiasakan untuk mencotohkan dan mengajari anak di rumah, besar kemungkinan untuk si anak sedikit sulit memguasai bahasa Jawa tersebut. Karena mereka tidak pernah mendengar sama sekali mengenai kosa kata Bahasa jawa didalam keluarga. Selanjutnya, berdasarkan jawaban yang mereka berikan di lembar observasi bahwa masih banyak di daerah mereka yang menggunkan bahasa Jawa saat berinteraksi dengan orang lain. Namun, orang-orang yang melakukan interaksi dengan bahasa Jawa tersebut adalah orang-orang yang sudah tua. Walaupun hanya orang-orang yang sudah tua saja yang masih menggunakan bahasa Jawa saat berbicara, ini bisa menjadi salah satu penunjang agar para siswa bisa mengenal bahkan menguasai bahasa Jawa.
Lingkungan sekolah
Selain dari factor keluarga, ada factor lingkungan sekolah yang berpengaruh terhadap kesantunan Bahasa pada siswa. Yang mana mereka lebih banyak menghabiskan waktu dirumah dan di sekolah sehingga pengaruhnya juga terlalu besar terhadap karakter siswa. Pada segi factor lingkungan, dapat diperoleh hasil dimana tingkat tutur kata yang digunakan oleh beberapa siswa terhadap guru masih ada yang memakai tutur kata ngoko alias kata-kata yang kurang sopan jika digunakan untuk berkomunikasi dengan guru,orang tua atau yang umurnya lebih dari penutur. Tutur kata ngoko ini banyak sekali yang terlontar dari para siswa, salah satunya dari situasi dimana seorang siswa saat berpapasan dengan gurunya namun guru tersebut usianya dibilang masih muda.
Siswa : Pak, teka ndi ae sampean tak goleki ket mau?
Dari salah satu contoh tuturan siswa bisa menunjukkan bahwa tingkat penggunaan unggah-ungguh di siswa masih rendah. Mereka masih belum terbiasa dengan menggunakan unggah-ungguh. Sedangkan untuk tutur kesantunan berbahasa siswa terhadap teman sebayanya juga banyak mengalami penyimpangan. Biasa terjadinya penyimpangan kesantunan bahasa yang terjadi kepada siswa dengan teman sebaya di sekolahnya dapat berupa kata-kata yang sedang ngetrend di jejaring sosial ataupun kata-kata ejekan yang ditujukan kepada salah satu teman. Kadang kala memanggil nama temannya dengan nama ayah atau ibunya. Memanggil temannya dengan sebuta hewan.
Siswa : ‘’Pin, Ripin gak ng kantin a?
: arep ning ndi ndol?
Faktor yang mempengaruhi ketidak santunan berbahasa itu sendiri didasari karena tidak terbiasanya siswa menggunakan tutur kata krama sesuai unggah-ungguh basa atau kesopan dalam berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu saling mengejek juga menjadi salah satu faktor yang berpengaruh dalam tutur kata siswa, dari keterangan informasi data yang diperoleh, saling mengejek yang terjadi dapat berupa kata-kata ejekan menggunakan nama orang tua atau profesi pekerjaan orang tua anak yang yang sedang diejek. Selain kedua faktor tersebut, sosial media juga mempengaruhi tutur kata yang digunakan siswa. Saat ini sebagian besar siswa sudah memiliki akun sosial media pribadi. Dari media sosial inilah anak-anak dengan mudah meniru kalimat-kalimat yang sedang viral dan kata-kata yang tidak sesuai yang tidak sepatutnya untuk di contoh.
Berdasarkan hasil penelitian, maka sekolah perlu adanya upaya dalam menangangi ketidaksantunan berbahasa dalam rangka membangun pribadi siswa yang lebih baik. Menurut Musyawir (2017: 3) mengatakan bahwa jika siswa dibiarkan saja berbicara tidak santun, maka akan membuat generasi yang selanjutnya menjadi generasi yang arogan, kasar, jauh dari nilai-nilai etika, agama, dan tidak berkarakter. Untuk meminimalisir karakter yang kurang baik dalam kesantunan berbahasa bias dilakukan dengan cara apabila siswa mengucapkan kata-kata yang kurang pantas atau menggunakan bahasa yang tidak sopan maka guru akan menegur dan mengingatkan secara lisan atau guru akan mendiamkan siswa tersebut sampai mereka menyadari kesalahan mereka. Jika peringatan lisan tidak berjalan, maka akan diperingatkan secara tulisan.
Kesantunan Bahasa khususnya unggah ungguh basa menjadi hal yang sangat penting dalam komunikasi karena itu sebagai refleksi dari sopan santun dan sikap pembicara (Rukhana, 2018: 73). Dalam bahasa jawa sendiri memiliki tingkat tutur/unggah-ungguh yang dikenal selama ini oleh masyarakat jawa secara luas adalah bentuk Ngoko dan Krama (kasar dan halus). Dalam bahasa Jawa Ngoko menurut Poedjosoedarmo (dalam Trahutami 2016: 106) sering digunakan untuk komunikasi masyarakat yang biasa yang belum berpendidikan, sering digunakan di pasar dan oleh para penggarap lahan pertanian di kebun dan sawah. Bahasa ini umumnya digunakan untuk berkomunikasi biasa tanpa memperhatikan strata usia dan lebih memancarkan arti kesopanan yang rendah. Sedangkan bahasa Krama menyatakan tingkat tutur kata yang penuh sopan santun dan bermuatan menghargai (Trahutami, 2016: 108).
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa membangun karakter melalui kesantunan berbahasa unggah-ungguh basa pada siswa SMA Negeri 1 Kutorejo Kabupaten Mojokerto ini sebagai solusi untuk mengatasi minimnya kemauan para siswa untuk menggunakan unggah-ungguh basa saat berinteraksi pada lingkup daerah. Selain itu, anggapan para siswa bahwa bahasa asing itu jauh lebih menarik daripada bahasa Jawa yang dianggap sulit. Hal ini dapat menyebabkan ketidaksantunan berbahasa Jawa unggah-ungguh secara totalitas atau bisa dikatakan punah. Kemudian, siswa juga menganggap bahwa bahasa asing lebih penting untuk dipelajari daripada bahasa Jawa. Dengan alasan jika mereka telah memasuki dunia pekerjaan, keterampilan bahasa asing sangat diperlukan. Mereka beranggapan bahwa orang yang memiliki keterampilan berbahasa asing akan lebih dipertimbangkan untuk bisa diterima di suatu tempat kerja daripada orang yang sama sekali tidak memiliki keterampilan dalam berbahasa asing. Hal ini tentunya sangat berpengaruh bagi perkembangan bahasa Jawa dikalangan siswa SMA Negeri 1 Kutorejo Mengapa dikatakan demikian, karena secara berangsur-angsur bahasa Jawa akan mengalami kepunahan jika cara pandang para siswa masih begitu.
Kesantunan bahasa dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni kebiasaan siswa menggunakan tutur bahasa ngoko/ kasar dalam berinteraksi sehari-hari. Adanya saling ejek/verbal bulliying antar teman dengan menggunakan nama orang tua atau profesi orang tua, dan pengaruh media sosial. Upaya yang dilakukan sekolah dalam meminimalisir ketidaksantunan bahasa yaitu menggunakan bahasa indonesia saat berkomunikasi di sekolah, membatasi penggunaan media social. Serta teguran lisan sampai dengan teguran tulisan dalam kegiatan sehari-hari di sekolah.
REFERENSI
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,. Kualitatif, dan R&D. Alfabet
Faridah, S. (2018). Pelanggaran Prinsip Kesantunan dalam Sastra Lisan Madihin. KREDO: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra, 1(2), 35-50.
Musyawir. (2017). Penyimpangan Prinsip Kesantunan Berbahasa Dalam Interaksi Belajar-Mengajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas Xi Sma Negeri 2 Panca Rijang Sidenreng Rappang. Jurnal Kesantunan Bahasa.
Rukhana, F., Andayani, A., & Winarni, R. (2018). The Adherence Form of Linguistic Politeness in Learning Indonesian for Foreign Speakers. International Journal of Multicultural and Multireligious Understanding, 5(6), 73-80
Trahutami, S. I. (2016). Pemilihan Tingkat Tutur Bahasa Jawa Pada Masyarakat Desa Klapaduwur Blora. Culture, 3(1), 92-114
Foto Kegiatan